03 April 2009

Perkebunan Kelapa Sawit, Salah Satu Penyebab Berkurangnya Hutan Kalimantan

Tanaman Kelapa Sawit beberapa tahun belakangan mulai ditanam dengan giat di beberapa daerah di Indonesia yang memungkinkan tanaman tersebut untuk hidup dan tumbuh, serta berkembang. Penanaman baik yang dilakukan oleh perorangan ataupun perusahaan-perusahaan perkebunan yang khusus menanam satu macam tanaman ini. Seperti yang kita ketahui di beberapa daerah sudah gencar-gencarnya menanam tanaman ini mengingat harga minyak yang dihasilkan oleh tumbuhan tersebut memiliki harga yang cukup menjanjikan apabila dari dilihat dari sisi ekonominya. Sumatra, Kalimantan, Sulawesi merupakan pulau-pulau yang memiliki lokasi dengan lahan ribuan hektar yang banyak ditanami kelapa sawit. Menurut saya dalam mendapatkan lahan-lahan tersebut dari masyarakat tidak jarang sering terjadi perdebatan yang panjang mulai dari nego harga lahan, menyangkut kawasan tanah ulayat, terlalu dekat dengan permukiman penduduk, sampai kepada penentuan masalah plasma sebagai iming-iming kepada masyarakat agar tanah mereka dilepaskan untuk perusahaan yang tidak lain adalah untuk dijadikan area perkebunan kelapa sawit.

Tidak mengherankan kelapa sawit yang memiliki nama latin Elaeis adalah sebagai tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri maupun bahan bakar atau biodiesel. Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan rimba belantara dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit kedua dunia setelah Malaysia, namun proyeksi ke depan memperkirakan bahwa Negara Indonesia akan menempati posisi pertama. Seperti jenis palma lainnya, daunnya tersusun majemuk menyirip. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya agak mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam serta hanya terdapat pada sisi-sisi pelepahnya saja yang juga membedakan dengan tanaman salah yang hampir pada pangkal pelepah sampai ke ujung terdapat duri-duri yang sangat tajam dan pajang. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan menjadi mirip dengan kelapa.

Minyak sawit digunakan sebagai bahan baku minyak makan, margarin, sabun, kosmetika, kulit dan industri farmasi. Minyak sawit dapat digunakan untuk begitu beragam peruntukannya karena keuunggulan sifat yang dimilikinya yaitu tahan oksidasi dengan tekanan tinggi, mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya, mempunyai daya melapis yang tinggi dan tidak menimbulkan iritasi pada tubuh dalam bidang kosmetik.
Bagian yang paling populer untuk diolah dari kelapa sawit adalah buah. Bagian daging buah menghasilkan minyak kelapa sawit mentah (CPO) yang diolah menjadi bahan baku minyak goreng dan berbagai jenis turunannya. Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga yang murah, rendah kolesterol, dan memiliki kandungan karoten tinggi. Minyak sawit juga diolah menjadi bahan baku margarin. Minyak inti menjadi bahan baku minyak alkohol dan industri kosmetika. Bunga dan buahnya berupa tandan, bercabang banyak. Buahnya kecil bila masak berwarna merah kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulit buahnya mengandung minyak. Minyaknya itu digunakan sebagai bahan minyak goreng, sabun, dan lilin. Ampasnya dimanfaatkan untuk makanan ternak. Ampas yang disebut bungkil itu digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan makanan ayam. Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar dan arang juga dapat digunakan untuk pengerasan jalan yang masih belum diaspal sebagai pengganti kerikil terutama dengan kontur tanah liat yang masih banyak jalan yang belum tersentuh pengerasaan. Namunpun demikian tetap hati-hati pada saat penghujan karena sangat licin yang berpotensi kendaraan dapat tergelincir atau terperosok masuk ke jurang.

Karena alasan tersebut membuat banyak pengusaha ingin menanam kelapa sawit. Tidak jarang rakyat kecil yang selalu menjadi korban atas keinginan dan nafsu pengusaha kelapa sawit dalam mendapatkan lahan yang seluas-luasnya sebagai area perkebunan. Hal tersebut saya katakan demikian karena menurut pengalaman pribadi sendiri dan keluhan beberapa masyarakat yang lahannya dijual kepada perusahaan dengan harga yang tidak sebanding dengan isi yang ada didalamnya seperti tanaman karet, pohon durian, rambutan, pohon duku, rotan, dll. Malah ada kasus perusahaan kadangkala membayar setengah dulu lahan masyarakat tersebut lalu menggarap lahan tersebut namun sisanya entah kapan lagi untuk dilunasi. Atau ada juga masyarakat yang lahannya diukur lalu digarap tanpa dibayar sepeserpun oleh perusahaan. Juga ada lahan dalam penentuan masalah nego harganya tarik ulur yang bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan sampai akhirnya pemilik melepaskan lahannya untuk perusahaan dengan harga yang murah sekali. Ini merupakan dalah satu trik perusahaan supaya mendapatkan lahan dengan harga yang murah. Masa ada lahan yang harga per hektarnya dihargai hanya Rp500-ribu rupiah. Atau lahan yang ada isi tanaman berupa kebun hanya diharga antara Rp1 juta sampai Rp1,2 juta saja.

Kejadian-kejadian seperti diatas merupakan kenyataan yang memang benar-benar ada terjadi disekitar perkebunan kelapa sawit. Perusahaan hanya mengingkan keuntungan yang sebesar-besarnya saja tanpa memperhatikan keinginan rakyat/masyarakat sekitar perkebunan sebagai pemilik lahan. Juga trik untuk mendapatkan harga lahan yang murah yaitu dengan memanfaatkan tokoh-tokoh masyarakat yang memang memiliki wibawa untuk bernego dengan warganya. Tokoh masyarakat sebagai ujung tombak atau garda terdepan perusahaan dalam menghadapi rakyat yang tidak menginginkan lahannya untuk dijual. Akhirnya saling berbenturan sesama masyarakat kecil sehingga yang terjadi peperangan secara tidak langsung dengan saudara sendiri. Saya katakan demikian karena masyarakat pedesaan system gotong-royong masih kental dan terasa sekali. Hal tersebut akan hilang dalam waktu sekejap apabila itu yang terjadi dalam masyarakat pemilik lahan. Rakyat kecil dijadikan ujung tombak perusahaan dalam kemajuan dan keberadaan suatu perusahaan. Seharusnya kebun-kebun yang dijadikan sebagai sumber kehidupan rakyat bertahun-tahun akhirnya lenyap dalam waktu yang relative singkat dan yang menjadi pertanyaan kemana mereka harus mencari lahan lagi?
Seandainya bukan kebun rakyat yang menjadi sasaran sebagai lahan perkebunan, berapa ribu hektar hutan belantara yang habis dibabat hanya dijadikan sebagai lahan perkebunan kelapa sawit. Ini juga yang merupakan salah satu penyebab berkurangnya luas hutan Indonesia setiap harinya disamping pembalakan liar, illegal logging, kebakaran, ladang berpindah, dll. Konon bangsa Indonesia sebagai Negara yang memiliki hutan hujan tropis terluas nomor tiga dunia sebagai paru-paru dunia dalam mengendalikan bahaya karbondioksida. Bagaimana hal tersebut dapat dipertahankan kalau kenyataan sehari-harinya sangat bertolak belakang. Suatu saat hanya tinggal kenangan saja apabila tidak dipertahankan. Itu merupakan tanggungjawab kita bersama.

Hendaknya perusahaan memperhatikan kepentingan bersama bukan hanya kepentingan pemilik pribadi serta tetap mempertahan kelestarian hutan yang sebenarnya. Juga bagaimana dalam penentuan nego harga lahan yang sewajar-wajarnya bagi rakyat dan tidak saling merugikan kedua belah pihak. Perusahaan dapat menjalankan usahannya dengan tenang begitu juga rakyat yang berada disekitar perkebunan dapat tinggal dengan tenang tidak saling mengganggu terutama untuk keberlangsungan perusahaan dalam waktu yang lama. Masyarakat juga tidak terlalu menuntut juga apabila hak-haknya diperlakukan dengan adil. Tidak akan banyak tuntutan yang aneh-aneh kepada perusahaan apabila kesejahteraannya diperhatikan. Tidak jarang buntut dari ketidakpuasan masyarakat berujung pada tindakan anarkis merusak aset-aset perusahaan yaitu karena alasan tadi. Yang pasti saling memperhatikan terutama perusahaan perkebunan kelapa sawit sebagai pihak yang berperan sekali dalam mengendalikan semuanya keadaan.


Related Posts :



Widget by Hoctro | Jack Book

Komentar :

ada 3 comments ke “Perkebunan Kelapa Sawit, Salah Satu Penyebab Berkurangnya Hutan Kalimantan”
Yackpakit mengatakan...
pada hari 

Kehadiran perkebunan dimana saja merupakan dilemma, disatu pihak bisa mengurangi pengangguran disisi lain pemilik kapital sekan-akan gak mau tahu dampaknya bagi masyarakat setempat. Bukan rahasia lagi bahwa setiap pengusaha itu bertujuan mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari sumber yang ada. Tokoh masyarakat yang diharapkan menjadi pembela hak masyarakatnya pun kadang tidak berpikir panjang karena sudah menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk mencapai tujuan politik ekonomi-nya. Siapa sih yang tidak tergiur dengan uang sementara tawaran besar datang mengajak mengeruk keuntungan dari masyarakat miskin yang tidak berdaya?
Kita ini yang juga tidak berdaya hanya bisa menghimbau dan mengharap belas kasihan dari para tokoh masyarakat dan para cukong: "bahwa uang memang salah satu komponen penting untuk membuat hidup bahagia, namun "takut akan Tuhan adalah sumber damai sejahtera".

Beny M mengatakan...
pada hari 

Benar sekali pendapat abang tersebut. Apa yang diutarakan benar sekali. Memang itu keadaan yang sebenarnya di Kalimantan sana. Terima kasih untuk kunjungannya. Maaf baru di balas komentarnya.

Anonim mengatakan...
pada hari 

tidak 100% setuju gan,
karena kebanyakan pembukaan lahan sawit bukan di Hutan yang benar benar hutan perwan, satusnyanya ada kawasan Hutan namun pohonan yang gede sudah dimaling cukong kayu (illegal logging), terus kalau dibiarkan emang ada yang mau menanam hutan itu kembali dan apakah masyarakat sekitar hutang yang bodong bisa mendapatkan manfaat dari situ?? Pastinya lebih bermanfaat jika dikonversi jadi Hutan sawit dari pada dibiarkan menjadi hutan ilalang yang tidak bermanfaat

Poskan Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar apabila Anda merasa puas/tidak puas dengan judul postingan ini. Terima Kasih. Berkunjung lagi di lain waktu

KumpulBlogger

Ayat Hari Ini

Reader Community

My PageRank

Mari Tukaran Links

 
This Blog is proudly powered by Blogger.com | Template by Angga Leo Putra